Close Menu
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Facebook Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    cakranews8.com
    • Beranda
    • Berita
    • Artikel
    • Politik
    • Ekonomi
    • Nasional
    • Pariwisata
    cakranews8.com
    Home»Daerah»Wakil Ketua DPRD Bali, IGK Kresna Budi : ASF Sebabkan Kelangkaan Babi, Pemerintah Harus Bertindak Cepat
    Daerah

    Wakil Ketua DPRD Bali, IGK Kresna Budi : ASF Sebabkan Kelangkaan Babi, Pemerintah Harus Bertindak Cepat

    By ebravenanda27 December 20243 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    BULELENG – Kenaikan harga babi di Bali akibat wabah ASF berdampak luas pada peternak, pelaku UMKM, dan konsumen. Peternak menghadapi kesulitan produksi dan kekurangan modal, sementara pelaku UMKM seperti warung makan tertekan oleh tingginya harga bahan baku. Konsumen juga terdampak dengan lonjakan harga daging yang membebani daya beli, terutama untuk kebutuhan adat.

    Wakil Ketua II DPRD Provinsi Bali, IGK Kresna Budi, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak serius wabah African Swine Fever (ASF) dibeberapa daerah di Indonesia, yang berdampak pada penurunan drastis hasil ternak babi di Bali. Meskipun permintaan daging babi meningkat, suplai yang terbatas membuat harga melambung tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan Kresna Budi di kediamannya, Rabu (25/12).

    “Yang namanya penyakit itu memang berat dihadapi. Kita harus memberikan perlindungan kepada para peternak agar mereka tidak mengalami nasib serupa dengan daerah lain seperti Jakarta, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Pembatasan pergerakan peternakan sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut,” tegas Kresna Budi.

    Ia juga menyoroti kurangnya perhatian pemerintah terhadap penyebaran ASF. Salah satu faktor utama penyebaran virus ini adalah alat angkut yang digunakan dalam distribusi ternak babi. Wabah ASF telah menyebabkan kematian ribuan ternak, yang secara otomatis memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan.

    “Semakin sedikit ternak babi yang tersedia, harga tentu akan naik. Ditambah lagi, permintaan daging babi juga meningkat, baik di Bali maupun dari daerah lain,” ujarnya.

    Kresna Budi menjelaskan bahwa Bali kini menjadi pusat pembelian babi karena masih memiliki populasi ternak yang hidup. Namun, wabah ASF yang terjadi pada tahun 2019 sempat memusnahkan sekitar 266 ribu ekor babi, dan banyak peternak tidak mampu bangkit kembali akibat keterbatasan modal serta minimnya perhatian pemerintah.

    Artikel lain  Dorong UMKM Hijau Lewat Permata Eco Fair 2026, Permata Bank Perkuat Arah Pembiayaan Ekonomi Rendah Karbon

    “Makanya, bantuan hibah saya arahkan kepada peternak untuk memulihkan usaha peternakan babi mereka. Prosesnya memang membutuhkan waktu, tetapi ini langkah penting,” imbuhnya.

    Ia juga menyoroti dampak lanjutan dari wabah ini terhadap pelaku usaha, termasuk para jagal. “Biasanya mereka memotong 10 ekor babi per hari, sekarang hanya mampu 5 ekor. Pendapatan mereka otomatis menurun,” jelas Kresna Budi.

    Dirinya mendesak Pemerintah Provinsi Bali dan lembaga perbankan untuk membantu para peternak dengan memberikan dukungan permodalan. Ia menyarankan Kredit Usaha Rakyat (KUR) diberikan kepada ibu rumah tangga untuk mendorong mereka memelihara babi sebagai langkah membantu peternak yang bangkrut.

    “Saya berharap Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali membuat program yang benar-benar mendukung peternakan rakyat. Kita semua harus mengevaluasi bersama dan mencari solusi terbaik tanpa saling menyalahkan,” tegasnya.

    Sebagai langkah konkret, Kresna Budi menyarankan diadakannya pertemuan antara pelaku usaha, termasuk peternak, distributor, jagal, hingga pelaku UMKM. Kolaborasi ini diharapkan dapat merumuskan langkah strategis untuk memulihkan kondisi peternakan babi di Bali.

    “Mari kita adem bersama-sama, tidak ada yang dirugikan. Saya sangat setuju diadakan diskusi lintas pelaku usaha agar semua pihak dapat bersinergi,” pungkas Kresna Budi.

    Dengan adanya sinergi ini, diharapkan masyarakat Bali, khususnya para peternak babi, mampu bangkit dan kembali berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan pangan lokal maupun nasional. (E’Brv)

     

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    Related Posts

    BIBU Panji Sakti dan PTDI Teken Kontrak Tiga N219, Dorong Logistik Laut-Udara

    Kredit dan Likuiditas Tumbuh, OJK Yakin Perbankan Tetap Solid

    Gilimanuk Padat, Pangdam Udayana Pantau Dari Udara dan Siapkan Langkah Penguraian

    Dorong UMKM Hijau Lewat Permata Eco Fair 2026, Permata Bank Perkuat Arah Pembiayaan Ekonomi Rendah Karbon

    Don't Miss
    Hukum

    Tanah Negara Rp4,8 Triliun di Ungasan Disita Kortastipidkor, Dugaan Ruislag Didalami

    By cakranews817 September 2026

    BADUNG – Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri menyita aset tanah negara seluas kurang…

    Mantan Kakanwil BPN Bali I Made Daging Ditahan Polda Bali Terkait Dugaan Pemalsuan Surat

    17 September 2026

    Prabowo Lantik Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Gantikan Purbaya Yudhi Sadewa

    15 September 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Beranda
    • Artikel
    © 2026 Cakranews8. Powered by Iwana.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.