GIANYAR — Pasar seni bukan sekadar ruang transaksi, melainkan denyut nadi ekonomi kerakyatan Bali. Di tempat inilah kreativitas, tradisi, dan semangat gotong royong berpadu menjadi kekuatan ekonomi yang berakar pada budaya dan spiritualitas masyarakat Bali.
Pasar seni menjadi panggung bagi para perajin, seniman, dan pelaku UMKM lokal untuk menampilkan karya yang lahir dari nilai-nilai luhur warisan leluhur. Dari ukiran kayu, lukisan, kain tradisional, hingga kerajinan tangan, setiap karya bukan hanya produk ekonomi, tetapi juga representasi jiwa dan identitas Bali.
Putu Marissa Pradewi, B.A, lulusan University of British Columbia, Kanada di bidang Business Economics, menegaskan bahwa pasar seni memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi rakyat sekaligus menjaga kedaulatan budaya Bali.
“Pasar seni adalah bentuk nyata ekonomi kerakyatan yang hidup dari akar budaya masyarakat. Di sinilah kreativitas rakyat Bali menemukan ruangnya untuk tumbuh, mandiri, dan berdaya saing, tanpa kehilangan nilai spiritual dan jati diri,” ujarnya.
Menurut Marissa, pembangunan ekonomi Bali ke depan harus menempatkan masyarakat sebagai pusat kekuatan. Pasar seni dapat menjadi simpul penting yang menghubungkan tradisi, inovasi, dan peluang global.
Ia menambahkan bahwa ketika pasar seni dikelola dengan visi yang kuat, transparan, dan berkelanjutan, maka pasar tersebut tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan budaya dan kebanggaan nasional.
“Bali memiliki kekuatan budaya yang luar biasa. Jika ekonomi kerakyatan diperkuat melalui pasar seni yang visioner, maka Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata dunia, tetapi juga pusat ekonomi kreatif yang bermartabat dan berdaulat,” tegasnya.
Dengan demikian, pasar seni bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang peradaban yang menjaga keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan spiritualitas sebuah fondasi penting bagi masa depan Bali yang mandiri, berdaya, dan tetap setia pada akar tradisinya.. (Tim13)
