DENPASAR – Cakranews8.com || Universitas Mahasaraswati Denpasar menggelar pengukuhan lima guru besar tetap dalam sebuah acara akademik yang penuh makna. Acara ini menjadi tonggak penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di Bali. Kehadiran Gubernur Bali, I Wayan Koster, semakin menegaskan komitmen daerah ini terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang selaras dengan filosofi kearifan lokal, Jumat 7/3.
Lima Guru Besar Tetap Dikukuhkan Dalam kesempatan tersebut, lima akademisi dari berbagai disiplin ilmu menerima gelar Profesor Tetap atas dedikasi dan kontribusi mereka:
1. Prof. Dr. I Kt. Sukewati Lanang Putra Perbawa, S.H., M.H. – Guru Besar Tetap di Bidang Hukum Pemilu, yang menghadirkan gagasan untuk memperkuat sistem pemerintahan yang adil dan berkelanjutan.
2. Prof. Dr. Ir. I Putu Sujana, M.S. – Ahli Budidaya Pertanian yang mengembangkan konsep ketahanan pangan berbasis lingkungan dan berkelanjutan.
3. Prof. Dr. Ida Ayu Made Sri Widiastuti, S.Pd., M.Pd., M.Hum. – Pakar Pendidikan Bahasa Inggris yang membekali generasi muda dengan keterampilan berbahasa untuk menghadapi dunia global.
4. Prof. Dr. Ir. NI GSt. Ag. Gae. EKc Martiningsih, M.Si. – Pionir dalam pengembangan pertanian berkelanjutan yang menekankan keseimbangan antara manusia dan alam.
5. Prof. Dr. Desak Putu Eka Pratiwi, S.S., M.Hum. – Akademisi yang berperan dalam pelestarian bahasa Bali sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
Pidato Gubernur: Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal
Dalam pidatonya, Gubernur Koster menegaskan bahwa pengukuhan guru besar ini merupakan bukti nyata komitmen Bali dalam membangun masa depan melalui pendidikan. Ia menekankan pentingnya kemajuan yang tetap berakar pada filosofi “Sat Kerthi Loka Bali”, yakni menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Pendidikan adalah cahaya yang menuntun kita ke masa depan. Namun, cahaya itu harus tetap terhubung dengan akar kebijaksanaan yang telah lama ada di Bali,” ujar Gubernur Koster. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya mengejar kemajuan material, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai budaya dan kelestarian alam.
Penanaman Pohon Kenanga: Simbol Ilmu yang Bertumbuh
Sebagai simbol keberlanjutan ilmu pengetahuan, acara ini ditutup dengan penanaman Pohon Kenanga. Pohon ini melambangkan harapan, dedikasi, dan keberlanjutan, sebagaimana ilmu yang diwariskan oleh para guru besar akan terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Dengan semangat Sat Kerthi Loka Bali, Gubernur Koster berharap pendidikan di Bali mampu mencetak generasi yang cerdas, bijaksana, serta tetap berakar pada budaya dan kelestarian lingkungan.
“Semoga pengukuhan ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menciptakan Bali yang lebih sejahtera, lebih bijaksana, dan lebih harmonis,” tutupnya.
Pengukuhan ini bukan hanya sebuah seremoni akademik, tetapi juga awal dari perjalanan panjang menuju Bali yang lebih maju dan berkelanjutan. Seperti pohon yang ditanam hari itu, semoga ilmu dan kebijaksanaan yang diwariskan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.(Tim13)