Oleh : Ngurah Sigit.
DENPASAR – Dalam sunyi doa dan pelukan kasih ibunya, Sang Master ditempa. Didikan itu bukan sekadar ajaran hidup, melainkan penanaman watak: rendah hati setinggi langit, mau mendengarkan sedalam samudra,teguh selembut bumi. Dari rahim kasih itulah ia melangkah ke garis pertama pengabdian, berdiri dekat singgasana, bukan untuk berkuasa melainkan untuk menjaga arah.
Ibunya laksana penuntun zaman: menyalakan api kebijaksanaan, menaruh keberanian pada tempatnya, dan meneguhkan iman pada tujuan yang lebih besar dari diri. Maka Sang Master tumbuh karismatik ucapnya jujur, langkahnya pasti. Di hadapan raja, ia menjadi cermin nurani; di hadapan rakyat, ia menjadi teladan persatuan.
Ia memahami bahwa kekuatan sejati bukan pada pedang, melainkan pada kesanggupan menyatukan. Dengan spiritualitas yang membumi dan patriotisme yang menyala, ia merajut perbedaan menjadi ikrar. Nusantara tak ditaklukkan ia dipeluk. Dan di sanalah Sang Master dikenang: bukan karena mahkota, tetapi karena jiwa yang mempersatukan zaman.
Penulis Adalah : Sosiolog, Budayawan dan Pemerhati Media.
