Close Menu
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Facebook Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    cakranews8.com
    • Beranda
    • Berita
    • Artikel
    • Politik
    • Ekonomi
    • Nasional
    • Pariwisata
    cakranews8.com
    Home»Artikel»Sebuah Pesan dari Gubernur Koster di Manis Kuningan
    Artikel

    Sebuah Pesan dari Gubernur Koster di Manis Kuningan

    By cakranews830 November 2025Updated:30 November 20253 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    DENPASAR – Sebuah pesan WhatsApp masuk, singkat tetapi penuh ketenangan, pada hari Manis Kuningan, Minggu 30 November 2025.

    “Menolong tanpa syarat, menerima tanpa melupakan, dan memberi tanpa mengingat.” tulis Gubernur Bali Wayan Koster.

    Kata-kata itu muncul seperti tetesan cahaya di tengah suasana pagi yang sunyi. Di luar sana, Bali sedang berada pada hari terakhir rangkaian Galungan–Kuningan hari yang selalu membawa warna lembut, seolah seluruh pulau sedang menutup lembaran spiritualnya dengan napas panjang.

    Tak lama kemudian, pesan kedua menyusul. “Proses menuju penyatuan jiwa dan raga dengan alam semesta, syarat mutlak mampu menghilangkan egoisme dan berbagai keterikatan,” tulisnya lagi.

    Dengan dua pesan itu, Gubetnur Koster seakan mengirimkan epilog dari sebuah rangkaian suci yang baru saja dilalui seluruh umat Hindu Bali.

    Sejak Galungan, Bali bergerak dalam irama yang lebih sakral. Rumah-rumah dibersihkan, banten disusun, dupa menyala setiap pagi dan sore. Tetapi Manis Kuningan adalah hari ketika semua itu mereda, ketika umat lebih memilih duduk tenang, menata hati, dan merasakan kembali makna perjalanan spiritual yang baru mereka lewati.

    Di saat itulah pesan Koster terasa menyatu dengan suasana. Ada keselarasan antara apa yang tertulis dan apa yang tengah terjadi di luar jendela.

    Pesan pertama Koster tentang menolong, menerima, dan memberi tanpa beban mengingatkan bahwa spiritualitas sesungguhnya tidak berhenti pada altar, tetapi justru dimulai ketika upacara selesai. Ini adalah nilai yang sering luput di tengah kesibukan manusia modern, keikhlasan yang tidak bersyarat, kebijaksanaan untuk menerima luka tanpa dendam, dan kemurahan hati tanpa pamrih.

    Sedangkan pesan keduanya, tentang penyatuan jiwa dan raga dengan alam semesta mengantar penulis pada renungan yang lebih dalam. Bahwa inti dari Galungan–Kuningan pada akhirnya selalu mengarah pada hal yang sama yaitu keseimbangan. Sebuah perjalanan untuk meredam ego, membuka ruang untuk ketenangan, dan merawat hubungan suci antara manusia, alam, dan Tuhan.

    Artikel lain  Seni, Komunikasi dan Hukum : Sinergi Kreativitas, Ekspresi dan Keadilan

    Ketika dupa terakhir dibiarkan padam di banyak rumah, pesan Koster itu tidak ikut padam. Ia justru mengendap di ruang pemikiran, mengingatkan bahwa setelah ritual berhenti, kehidupan yang sebenarnya dimulai lagi.

    Penulis melihat kembali halaman rumah, melihat penjor yang sedikit condong, melihat sinar pagi jatuh miring ke lantai batu. Semua tampak seperti sedang memberi tahu hal yang sama, bahwa penyucian tidak hanya terjadi lewat upacara, tetapi lewat cara manusia menjalani hari-harinya.

    Rangkaian Galungan–Kuningan tahun ini pun ditutup bukan sekadar dengan persembahyangan terakhir, tetapi dengan dua kalimat reflektif seorang gubernur yang memilih berbicara tentang nilai, bukan tentang jabatan.

    Pesan itu kini menggantung seperti aroma dupa yang tersisa, lembut, halus, tetapi mengajak merenung.

    Bahwa keikhlasan dan pengendalian diri adalah ibadah yang tidak pernah selesai.

    Dan pada Manis Kuningan ini, Bali menutup rangkaian sucinya dengan doa, keheningan, dan kata-kata yang mengingatkan kita untuk tetap jernih memandang hidup. (tim13)

    Manis Galungan Sebuah Pesan Tulisan Wayan Koater Wayan Koster
    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    Related Posts

    Bank BPD Bali: Tulang Punggung Ekonomi Kerakyatan Bali

    Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat Diakui sebagai Salah Satu Destinasi Pantai dan Selancar Terbaik di Dunia

    Filosofi Bebek dalam Dasar Pengabdian Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman.

    Ibu Asuh Hutan

    Don't Miss
    Berita

    KPK Tangkap Wakil Ketua PN Depok, Dugaan Suap Perkara Lahan Jadi Sorotan

    By cakranews86 February 2026

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (Komisi Pemberantasan Korupsi) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Kali…

    OTT KPK Gegerkan Kemenkeu, Pejabat Bea Cukai Terjaring Operasi

    4 February 2026

    Bank BPD Bali: Tulang Punggung Ekonomi Kerakyatan Bali

    4 February 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Beranda
    • Artikel
    © 2026 Cakranews8. Powered by Iwana.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.