Close Menu
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Facebook Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    cakranews8.com
    • Beranda
    • Berita
    • Artikel
    • Politik
    • Ekonomi
    • Nasional
    • Pariwisata
    cakranews8.com
    Home»Daerah»Peternak, Pedagang, dan Pemerintah Duduk Bersama, Mencari Solusi Hadapi Tantangan Industri Babi
    Daerah

    Peternak, Pedagang, dan Pemerintah Duduk Bersama, Mencari Solusi Hadapi Tantangan Industri Babi

    By ebravenanda31 December 2024Updated:1 January 20252 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    BADUNG – Dalam upaya mengatasi berbagai tantangan yang akan melanda industri babi Bali dimasa mendatang, asosiasi pedagang, pejagal, peternak, dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali diharapakan bisa bertemu satu meja untuk merumuskan langkah terbaik.

    Tantangan yang dihadapi meliputi antisipasi banjirnya daging babi impor, ancaman virus African Swine Fever (ASF), fluktuasi harga babi yang merugikan peternak, serta penguatan peran UMKM dalam rantai pasok daging babi.

    Ketua Asosiasi Jagal Babi Bali (AJBB), Ketut Suwitra, menyampaikan pentingnya kolaborasi untuk melindungi industri babi lokal.

    “Impor daging babi semakin mendominasi pasar, sementara peternak kita menghadapi biaya produksi yang tinggi. Selain itu, ancaman ASF masih menjadi momok yang mengurangi populasi babi. Jika ini terus berlanjut, UMKM yang bergantung pada daging babi lokal juga akan terdampak,” ujar Suwitra, Minggu (29/12/2024)

    Menurutnya, ada beberapa hal penting yang perlu dibahas, di antaranya :

    1. Pembatasan Impor Daging Babi,
    AJBB mendesak pemerintah pusat untuk mengurangi volume impor daging babi yang dinilai menjadi salah satu penyebab anjloknya harga babi lokal di tingkat peternak. Daging impor yang lebih murah akan membuat pasar lokal sulit bersaing.

    2. Penanganan Virus ASF,
    Peran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam pelaksanaan biosekuriti di tingkat peternak. Pemerintah harus berkomitmen meningkatkan pengawasan dan memberikan pelatihan kepada peternak untuk mencegah penyebaran ASF.

    3. Stabilisasi Harga Babi,
    Upaya untuk menjaga keseimbangan antara harga babi di tingkat peternak dan konsumen juga menjadi prioritas. Dengan formula yang tepat, harga diharapkan tetap menguntungkan bagi peternak tanpa memberatkan masyarakat.

    4. Penguatan Peran UMKM,
    Kolaborasi antara UMKM dengan peternak diharapkan menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan, sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.

    Artikel lain  Harga Babi Melonjak, GUPBI Desak Pemerintah Perbaiki Pasar dan Lindungi Peternak

    Melalui sinergi ini, diharapkan industri babi lokal dapat terus berkembang meski dihadapkan pada berbagai tantangan. Dengan kolaborasi yang erat, peternak, pedagang, UMKM, dan pemerintah optimistis dapat menjaga keberlanjutan industri babi yang menjadi salah satu pilar ekonomi Bali. (Tim-08)

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    Related Posts

    Bank BPD Bali: Tulang Punggung Ekonomi Kerakyatan Bali

    Gelar Rakerda Pertama, HIPPI Bali Soroti Ekspor Non-Pariwisata dan Kuatkan SDM Lokal

    Permata Bank Rombak Direksi, Ini Susunan Terbarunya

    Dana Nasabah Aman di BPR, Tidak Diblokir PPATK

    Don't Miss
    Berita

    KPK Tangkap Wakil Ketua PN Depok, Dugaan Suap Perkara Lahan Jadi Sorotan

    By cakranews86 February 2026

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (Komisi Pemberantasan Korupsi) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Kali…

    OTT KPK Gegerkan Kemenkeu, Pejabat Bea Cukai Terjaring Operasi

    4 February 2026

    Bank BPD Bali: Tulang Punggung Ekonomi Kerakyatan Bali

    4 February 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Beranda
    • Artikel
    © 2026 Cakranews8. Powered by Iwana.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.