Sanur | cakranews8 – Ubud Food Festival tahun ini menghadirkan kolaborasi unik antara edukasi minuman bersama bartender ternama dan modernisasi kuliner tradisional. Namun, di balik kemeriahan presentasi artistik, tokoh masyarakat, Ketut Suardana mengingatkan ancaman serius terhadap ekosistem pertanian dan krisis lahan petani.
Menggabungkan Edukasi Bartender dan Seni Penyajian Makanan
Festival tahun ini tidak hanya soal mencicipi hidangan, tetapi juga memperdalam keahlian bagi generasi muda. Program unggulan mencakup workshop intensif yang dipandu oleh para profesional di bidangnya.
Beberapa agenda menarik dalam festival ini meliputi:
Workshop Mixology:
Anak muda diajak mengeksplorasi teknik meracik minuman bersama bartender ternama.
Seni Presentasi: Pelatihan cara menyajikan makanan secara artistik untuk meningkatkan nilai jual di hadapan tamu.
Aktivitas Sehat: Sesi olahraga maraton pasca-makan untuk menyeimbangkan gaya hidup sehat.
Tantangan Modernisasi: Dari Tradisional ke Artistik
Fokus utama festival adalah menjembatani transisi kuliner dari bentuk tradisional menuju gaya modern tanpa kehilangan jati diri. Penekanan pada aspek visual menjadi krusial dalam tren industri makanan saat ini.
Kritik Pedas Ketut Suardana: Pertanian Bali Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Di balik gemerlap acara, Ketut Suardana menyoroti masalah fundamental yang sering terlupakan oleh pemerintah.
Menurutnya, festival makanan harus sejalan dengan perbaikan hulu, yakni kualitas hidup petani dan kelestarian alam.
”Pertanian kita miskin, dan hari-hari tanahnya itu dijual. Mereka (petani) tidak ada pilihan karena hasilnya tidak sesuai harapan, akhirnya mereka menjual ‘ibu’ mereka sendiri, yaitu bumi ini ” ujar Ketut.
Beberapa poin kritis yang disampaikan terkait kondisi lingkungan meliputi:
Penyusutan Hutan: Luas hutan rasional yang seharusnya 30%, kini hanya tersisa sekitar 16%.
Pencemaran Air: Penggunaan bahan kimia berlebih telah mencemari danau, sungai, hingga sawah.
Krisis Iklim: Kurangnya antisipasi pemerintah terhadap perubahan musim yang memukul produktivitas petani.
Menjaga Konsep Tri Hita Karana dalam Industri Pangan
Ketut Suardana menegaskan bahwa kondisi saat ini sudah tidak sesuai dengan konsep harmoni Tri Hita Karana. Perlu adanya dukungan nyata bagi inovasi pertanian seperti yang digagas para ahli (misalnya Prof. Ringsing) agar pertanian Bali kembali berkelanjutan.
Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan bertindak serius dalam menjaga ekosistem alam. Tanpa regulasi yang ketat, identitas kuliner Bali yang bersumber dari hasil bumi lokal terancam hilang seiring hilangnya lahan pertanian. (Tim-08)
