Oleh: Prof. Dr. Sukewati Lanang Putra Perbawa, S.H., M.Hum.
DENPASAR – Pertahanan nasional bukan sekadar kekuatan senjata, melainkan juga kekuatan karakter, keteguhan jiwa, dan kesadaran untuk menjaga kehormatan bangsa. Di sinilah Lemhannas memiliki peran strategis: menempa kader pemimpin nasional agar mampu berpikir jauh melampaui kepentingan diri dan golongan, serta tumbuh menjadi negarawan yang berintegritas, berwawasan kebangsaan, dan berjiwa pengabdian.
Lemhannas bukan hanya tempat mencetak pemimpin, melainkan kawah candradimuka bagi lahirnya kepemimpinan yang mampu membaca zaman, memahami dinamika geopolitik, serta mengambil keputusan demi keselamatan dan masa depan Indonesia. Setiap persoalan nasional dikaji bukan semata-mata dengan kecerdasan, tetapi juga dengan kejernihan nurani dan keberpihakan pada kepentingan bangsa.
Ketahanan nasional merupakan kesatuan antara kedaulatan negara, persatuan bangsa, kekuatan ekonomi, serta ketahanan sosial, budaya, ideologi, dan pertahanan-keamanan. Semuanya berpijak pada wawasan Nusantara, yakni kesadaran bahwa Indonesia adalah satu tanah air, satu bangsa, dan satu cita-cita.
Pada akhirnya, pertahanan terkuat adalah karakter bangsa. Senjata menjaga batas wilayah, tetapi karakter menjaga martabat. Strategi menghadapi ancaman, tetapi integritas mencegah bangsa kehilangan arah. Karena itu, membangun ketahanan nasional berarti membangun manusia Indonesia yang berani, berdisiplin, beriman, berintegritas, serta rela mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Indonesia yang kuat bukan hanya Indonesia yang mampu bertahan dari berbagai ancaman, tetapi juga Indonesia yang memiliki jiwa untuk menentukan masa depannya sendiri.
Lemhannas harus terus menjadi salah satu soko guru dalam perjalanan tersebut: menempa pemimpin, menajamkan wawasan, menguatkan ketahanan, dan menyalakan kembali kesadaran bahwa menjaga Indonesia merupakan amanah sejarah sekaligus tanggung jawab moral kepada generasi yang akan datang.
NKRI bukan sekadar warisan yang kita terima, melainkan amanah yang wajib kita jaga, kita kuatkan, dan kita wariskan dalam keadaan yang lebih berdaulat, bermartabat, dan mulia.
Penulis adalah Rektor Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar.
