Oleh: Ngurah Sigit
Denpasar – Pada zaman ketika Bali diuji oleh gelombang perubahan, lahirlah seorang putra dari tanah Singaraja, negeri yang namanya berasal dari singha dan raja—Singa Raja. Lambangnya adalah Singa Ambara Raja, singa bersayap yang melambangkan keberanian, kekuatan, kebijaksanaan, dan perlindungan bagi rakyat.
Sejak kecil, ia diajarkan oleh alam bahwa matahari tidak pernah memilih kepada siapa cahayanya diberikan. Ia menyinari gunung dan pantai, desa dan kota, kaya maupun miskin. Dari situlah tumbuh keyakinannya bahwa pemimpin sejati harus memberi tanpa pamrih, berlaku adil tanpa membeda-bedakan, serta teguh menjaga keseimbangan kehidupan.
Ketika dewasa, rakyat menjulukinya Koster Matahari dari Singaraja. Bukan karena ia ingin dipuja, melainkan karena ketekunannya menerangi jalan bagi banyak orang. Seperti matahari yang terbit tepat pada waktunya, ia bekerja dengan disiplin, konsisten, dan setia pada tujuan. Seperti matahari yang menghangatkan bumi, ia berusaha menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah zaman yang berubah.
Namun, ia juga memahami bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan akan menjadi kesombongan. Karena itu, ia meneladani Singa Ambara Raja: berani dalam tindakan, bijaksana dalam keputusan, dan melindungi mereka yang lemah. Baginya, kemajuan bukan sekadar membangun jalan dan bangunan, melainkan juga membangun jiwa, menjaga adat, budaya, alam, dan harmoni antara manusia, Leluhur, Tuhan, dan semesta.
Rakyat kemudian mewariskan sebuah petuah:
“Jadilah seperti matahari: memberi tanpa pamrih, adil tanpa pilih kasih, teguh tanpa goyah. Dan jadilah seperti Singa Ambara Raja: kuat dalam keberanian, luhur dalam kebijaksanaan, serta setia melindungi tanah kelahiran.”
Sejak itu, kisah Koster Matahari dari Singaraja dikenang sebagai cerita tentang kepemimpinan yang berakar pada spiritualitas, berpandangan jauh ke depan, dan berpijak pada cinta tanah air. Sebab bangsa yang besar lahir dari pemimpin yang mampu menerangi zaman, sebagaimana matahari menerangi dunia tanpa pernah meminta balasan.
Penulis adalah: Sosiolog, Budayawan, dan Pemerhati Media.
