JAKARTA – Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara tidak hanya dipandang sebagai proyek infrastruktur semata. Di balik gagasan besar tersebut, terdapat ikhtiar untuk merajut nilai sejarah, budaya, dan penghormatan terhadap para leluhur Nusantara sebagai fondasi menuju masa depan.
Semangat itu tergambar dalam perjalanan Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, bersama Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), YM Brigjen Pol. (Purn.) Dr. A.A. Mapparessa, M.M., M.Si., Karaeng Turikale VIII Maros, ke Ternate, Maluku Utara.
Sabtu pagi (4/7/2026), rombongan tiba di Bandara Sultan Babullah. Dari udara terlihat Gunung Gamalama yang masih diselimuti kabut tipis dengan bentangan laut yang mengitari Pulau Ternate.
Setibanya di bandara, mereka disambut Sekretaris Jenderal FSKN, YM Firman Mudaffar Sjah, putra mendiang Sultan Ternate ke-48. Tanpa prosesi penyambutan resmi, perjalanan langsung diarahkan menuju Jere Kulaba, kompleks makam para leluhur Kesultanan Ternate.
Perjalanan menuju lokasi melewati jalan yang membelah kaki Gunung Gamalama, melintasi permukiman warga, kebun pala, serta pohon-pohon cengkeh yang sejak berabad-abad silam mengantarkan Ternate menjadi pusat perdagangan rempah dunia.
Di kawasan Jere Kulaba, suasana terasa teduh dan khidmat. Kompleks makam yang sederhana itu dipenuhi batu nisan tua di bawah rindangnya pepohonan. Bagi masyarakat Ternate, istilah jere atau karamat bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan lokasi peristirahatan para ulama, penyebar Islam, dan leluhur Kesultanan yang hingga kini tetap dihormati.
Dalam suasana hening, YM Firman menjelaskan sejarah para tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut serta tradisi Kesultanan yang diwariskan turun-temurun. Erwanto lebih banyak mendengarkan sambil menyerap setiap kisah yang disampaikan.
Usai berziarah, YM Mapparessa mengungkapkan bahwa kunjungan itu memang sengaja diawali dari tempat yang sarat nilai sejarah.
“Matahari terbit dari timur. Dari timur pula kita diingatkan bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari sejarah. Sebelum berbicara mengenai masa depan, kita harus menghormati mereka yang telah membangun peradaban Nusantara,” ujarnya.
Menurutnya, filosofi tersebut sejalan dengan gagasan pembangunan Bandara Internasional Bali Utara.
Bandara yang direncanakan berdiri di Kabupaten Buleleng itu dipandang sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus simpul konektivitas baru yang akan menghubungkan Bali dengan kawasan Indonesia Timur.
Karena itu, menurut YM Mapparessa, sebuah ikhtiar besar akan memiliki makna yang lebih dalam apabila diawali dengan penghormatan kepada sejarah.
Mengenang Kepemimpinan Sultan Baabullah
Dari Jere Kulaba, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Foramadiahi, kawasan tua di lereng Gunung Gamalama yang menjadi lokasi makam Sultan Baabullah.
Semakin tinggi perjalanan ditempuh, udara semakin sejuk. Dari beberapa titik tampak panorama Kota Ternate, hamparan laut, hingga Pulau Tidore di kejauhan.
Di hadapan makam Sultan Baabullah, YM Firman mengajak rombongan memahami perjalanan panjang Kesultanan Ternate.
Menurutnya, Sultan Baabullah merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah Nusantara. Setelah ayahnya, Sultan Khairun, wafat akibat dibunuh Portugis pada 1570, Baabullah memimpin perlawanan hingga berhasil mengusir Portugis dari Benteng Kastela pada 1575.
Keberhasilannya memperluas pengaruh Kesultanan Ternate ke puluhan pulau di kawasan timur membuatnya dikenal sebagai Penguasa 72 Pulau.
“Sultan Baabullah mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kekuasaan, tetapi juga keberanian, diplomasi, dan visi dalam mempersatukan wilayah-wilayah Nusantara Timur,” ujar YM Firman.
Sejarah mencatat Kesultanan Ternate berdiri sejak 1257 pada masa Kolano Baab Mashur Malamo. Islam kemudian menjadi agama resmi kerajaan pada era Sultan Zainal Abidin.
Pada masa kejayaan Sultan Baabullah, pengaruh Ternate membentang hingga Maluku, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, bahkan sebagian wilayah Filipina Selatan.
Warisan sejarah itu masih dapat dijumpai hingga kini melalui benteng, masjid tua, kampung-kampung berusia ratusan tahun, serta makam para sultan yang menjadi saksi kejayaan kerajaan maritim Nusantara.
Dari Bukit Pengawas Kapal ke Gerbang Indonesia Timur
Agenda perjalanan berlanjut keesokan harinya, Minggu pagi, dengan mengunjungi Kedaton Buku Bandera atau Kadato Ici, istana peristirahatan Kesultanan Ternate yang berada di dataran tinggi.
Dari lokasi tersebut terlihat panorama Kota Ternate beserta Pulau Tidore yang membentang di kejauhan.
YM Firman menjelaskan bahwa pada masa Kesultanan, kawasan itu menjadi titik pengamatan kedatangan kapal dagang. Informasi mengenai kapal yang memasuki perairan kemudian diteruskan ke keraton melalui isyarat bendera.
Di tempat yang dahulu menjadi pusat pengawasan jalur perdagangan rempah itulah, pembicaraan mengenai masa depan Bandara Internasional Bali Utara kembali mengemuka.
YM Mapparessa mengatakan, Forum Silaturahmi Keraton Nusantara yang menghimpun raja, sultan, dan pemangku adat dari berbagai daerah di Indonesia memberikan dukungan moral terhadap pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sebagai bagian dari pemerataan pembangunan nasional.
Menurutnya, bandara tersebut memiliki posisi strategis sebagai gerbang baru Indonesia Timur yang tidak hanya melayani Bali, tetapi juga memperkuat konektivitas Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sementara itu, YM Firman menilai Indonesia membutuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru agar pembangunan berlangsung lebih merata. Dalam konteks tersebut, Bali Utara dinilai memiliki posisi strategis untuk membuka akses menuju kawasan timur Indonesia.
Selaras dengan RPJMN
Gagasan pembangunan Bandara Internasional Bali Utara telah berkembang selama lebih dari satu dekade.
Pemerintah pun memasukkan pengembangan Bali Utara ke dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029.
Dalam dokumen tersebut, penguatan konektivitas Bali Utara menjadi bagian dari strategi pemerataan pembangunan nasional, pengembangan jaringan logistik, serta peningkatan akses menuju wilayah Indonesia bagian timur.
Pelajaran dari Tanah Para Sultan
Bagi Erwanto, kunjungan selama dua hari di Ternate memberikan makna yang jauh melampaui urusan pembangunan fisik.
Ia mengaku semakin meyakini bahwa perjalanan panjang menuju terwujudnya Bandara Internasional Bali Utara selalu diiringi berbagai dukungan, baik dari para penglingsir, raja-raja di Bali, maupun tokoh-tokoh adat Nusantara.
Menurutnya, dukungan tersebut menjadi penguat bahwa pembangunan harus berjalan selaras dengan sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
“Saya datang dengan pikiran tentang sebuah proyek infrastruktur. Tetapi saya pulang dengan pelajaran bahwa pembangunan tidak bisa dipisahkan dari sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu. Itulah yang membuat perjalanan ini sangat berarti,” ujar Erwanto.
Mengakhiri Perjalanan, Meneguhkan Harapan
Senin pagi (6/7/2026), rombongan kembali menuju Bandara Sultan Babullah untuk meninggalkan Ternate.
Sebelum berpisah, YM Firman menyampaikan harapannya agar ketika Bandara Internasional Bali Utara berdiri kelak, masyarakat mengingat bahwa keberadaannya bukan hanya untuk Bali.
Menurutnya, bandara tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat konektivitas dan pemerataan pembangunan Indonesia Timur.
Pesawat pun lepas landas meninggalkan Ternate. Gunung Gamalama perlahan mengecil dari balik jendela, sementara lautan yang dahulu menjadi jalur perdagangan rempah tetap membentang, menyimpan jejak panjang peradaban Nusantara.
Perjalanan singkat selama dua hari itu meninggalkan pesan yang mendalam: bahwa pembangunan yang bertumpu pada teknologi, investasi, dan keberanian mengambil keputusan akan menjadi lebih kokoh apabila berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap sejarah, budaya, serta kearifan para leluhur.
Di negeri yang dibangun di atas lapisan sejarah seperti Indonesia, kemajuan akan memiliki fondasi yang lebih kuat ketika tumbuh dari akar peradaban bangsa dan semangat membangun Nusantara secara seimbang, dari timur hingga barat. (Tim13)
