DENPASAR – Sebuah diskusi inspiratif berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan bersama Brigjen Pol. Made Astawa, S.I.K., M.Si., Senin (6/7/2026). Pertemuan yang berlangsung selama 1 jam 10 menit itu menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus refleksi mendalam mengenai makna pengabdian, kepemimpinan, serta peran strategis Bhayangkara dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Dalam perbincangan tersebut, Brigjen Pol. Made Astawa menegaskan bahwa Bhayangkara merupakan cahaya bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, semangat pengabdian harus terus dijaga sebagai fondasi utama dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepada negara serta masyarakat.
Pandangan tersebut berpijak pada moto Kapolri ke-11, Jenderal Pol. (Purn.) Kunarto, yakni “Tekadku Pengabdian Terbaik.” Sebuah prinsip yang menegaskan bahwa kehormatan sejati lahir dari ketulusan mengabdi, bukan semata-mata dari jabatan ataupun kedudukan yang disandang.
Lebih jauh, Brigjen Pol. Made Astawa menguraikan bahwa nilai-nilai Bhayangkara memiliki akar filosofi yang kuat dari ajaran Mahapatih Gajah Mada, yaitu Satya Haprabu yang bermakna kesetiaan kepada negara, Hanyaken Musuh sebagai keberanian menghadapi setiap ancaman, Kinan Pratidina yang mencerminkan kesiapsiagaan tanpa henti, serta Teka Satrisna yang mengajarkan ketulusan berkorban tanpa pamrih.
Nilai-nilai luhur tersebut, lanjutnya, hidup dan menjadi ruh dalam Tribrata serta Catur Prasetya, yang hingga kini tetap menjadi kompas moral bagi setiap insan Bhayangkara dalam menjalankan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Pada akhirnya, Bhayangkara tidak hanya dipandang sebagai institusi penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga peradaban. Ketika kekuatan berpadu dengan integritas, kecerdasan berjalan seiring dengan kerendahan hati, serta pengabdian dilandasi nilai-nilai spiritual, maka akan lahir sosok Bhayangkara yang bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menyalakan harapan bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045. (Tim13)
