JAKARTA – Ada angka yang sekadar menjadi hitungan. Ada pula angka yang, ketika berulang dalam perjalanan hidup, seolah mengajak manusia untuk berhenti sejenak merenung tentang makna di balik kebetulan.
Saat membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Presiden Prabowo Subianto menyinggung jejak angka 8 dan 13 yang hadir dalam perjalanan pengabdiannya.
Muktamar ke-35: 3 + 5 = 8. Angka yang kemudian berkaitan dengan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.
Namun kisah angka itu belum berhenti.
Muktamar ke-36 yang direncanakan berlangsung pada 2031: 3 + 6 = 9, sementara 2 + 0 + 3 + 1 = 6. Dalam penjelasan yang disampaikan, rangkaian perhitungan tersebut kemudian dikaitkan hingga menemukan angka 13—sebuah angka yang kembali muncul dalam narasi perjalanan pengabdian.
Bagi Prabowo, semua itu bukan sesuatu yang perlu dipaksakan menjadi pertanda. Ia tidak mengaku mengatur, apalagi memahami mengapa rangkaian angka tersebut seolah menemukan jalannya sendiri.
Disitulah letak kedalamannya.
.Manusia boleh menghitung, tetapi Tuhan yang menentukan.
Angka hanyalah simbol. Jabatan hanyalah amanah. Waktu hanyalah titipan.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan manusia ketika takdir menempatkannya pada sebuah tanggung jawab: apakah kekuasaan menjadi tujuan, atau justru menjadi jalan pengabdian.
Maka 8 dan 13 tidak harus dibaca sebagai ramalan. Ia dapat dibaca sebagai pengingat: bahwa di balik segala perhitungan manusia, selalu ada kehendak Tuhan yang tak sepenuhnya dapat dihitung.
Dan seorang pemimpin pada akhirnya tidak dinilai dari angka yang melekat pada namanya, melainkan dari jejak kebaikan yang ditinggalkannya bagi bangsa.
Sebab sejarah mencatat angka.
Tetapi Tuhan menilai niat, pengabdian, dan amal. (***)
