Close Menu
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Facebook Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    cakranews8.com
    • Beranda
    • Berita
    • Artikel
    • Politik
    • Ekonomi
    • Nasional
    • Pariwisata
    cakranews8.com
    Home»OPINI»Presiden Prabowo Subianto: Angka 8 dan 13 dalam Jejak Pengabdian
    OPINI

    Presiden Prabowo Subianto: Angka 8 dan 13 dalam Jejak Pengabdian

    By cakranews828 August 20262 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    JAKARTA – Ada angka yang sekadar menjadi hitungan. Ada pula angka yang, ketika berulang dalam perjalanan hidup, seolah mengajak manusia untuk berhenti sejenak merenung tentang makna di balik kebetulan.

    Saat membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Presiden Prabowo Subianto menyinggung jejak angka 8 dan 13 yang hadir dalam perjalanan pengabdiannya.

    Muktamar ke-35: 3 + 5 = 8. Angka yang kemudian berkaitan dengan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.

    Namun kisah angka itu belum berhenti.

    Muktamar ke-36 yang direncanakan berlangsung pada 2031: 3 + 6 = 9, sementara 2 + 0 + 3 + 1 = 6. Dalam penjelasan yang disampaikan, rangkaian perhitungan tersebut kemudian dikaitkan hingga menemukan angka 13—sebuah angka yang kembali muncul dalam narasi perjalanan pengabdian.

    Bagi Prabowo, semua itu bukan sesuatu yang perlu dipaksakan menjadi pertanda. Ia tidak mengaku mengatur, apalagi memahami mengapa rangkaian angka tersebut seolah menemukan jalannya sendiri.

    Disitulah letak kedalamannya.

    .Manusia boleh menghitung, tetapi Tuhan yang menentukan.

    Angka hanyalah simbol. Jabatan hanyalah amanah. Waktu hanyalah titipan.

    Yang jauh lebih penting adalah apa yang dilakukan manusia ketika takdir menempatkannya pada sebuah tanggung jawab: apakah kekuasaan menjadi tujuan, atau justru menjadi jalan pengabdian.

    Maka 8 dan 13 tidak harus dibaca sebagai ramalan. Ia dapat dibaca sebagai pengingat: bahwa di balik segala perhitungan manusia, selalu ada kehendak Tuhan yang tak sepenuhnya dapat dihitung.

    Dan seorang pemimpin pada akhirnya tidak dinilai dari angka yang melekat pada namanya, melainkan dari jejak kebaikan yang ditinggalkannya bagi bangsa.

    Sebab sejarah mencatat angka.

    Tetapi Tuhan menilai niat, pengabdian, dan amal. (***)

    Artikel lain  Sekolah Rakyat: Cahaya Tunas Muda Negeri
    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    Related Posts

    Spiritualitas sebagai Kompas Pembangunan Bali, Refleksi Lima Puluh Menit Diskusi di Kediaman Wayan Koster

    Polisi Bersama Masyarakat: Mengabdi dengan Hati, Menjaga Negeri

    INDONESIA EMAS 2045: Dari Proklamasi Menuju Kejayaan

    ULANG TAHUN KONI KE-88: Menjunjung Prestasi, Menggelorakan Nasionalisme, Mengabdi untuk Indonesia

    Don't Miss
    OPINI

    Spiritualitas sebagai Kompas Pembangunan Bali, Refleksi Lima Puluh Menit Diskusi di Kediaman Wayan Koster

    By cakranews825 October 2026

    Oleh: Prof.Dr. Sukewati Lanang Putra Perbawa, S.H., M.Hum. Minggu, 25 Oktober 2026, bertepatan dengan…

    Libatkan NNCC China, BNN dan Polri Ungkap Laboratorium Sabu Internasional di Aceh

    24 October 2026

    Putu Andika Terpilih Ketua Apklindo Bali 2026–2031: Fokus Proteksi Tenaga Kerja Lokal

    22 October 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Beranda
    • Artikel
    © 2026 Cakranews8. Powered by Iwana.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.