Oleh: Prof. Dr. Sukewati Lanang Putra Perbawa, S.H., M.Hum.
Denpasar – Ketahanan nasional bukan sekadar kemampuan bertahan dari ancaman, tetapi kekuatan sebuah bangsa untuk berdiri tegak, menjaga jati diri, dan melangkah menuju masa depan dengan keyakinan.
Bangsa yang kuat bukan bangsa yang menutup diri dari dunia, melainkan bangsa yang kokoh di dalam dirinya sehingga mampu membuka pintu seluas-luasnya kepada dunia tanpa kehilangan arah, martabat, dan kedaulatannya.
Di situlah ketahanan nasional menjadi pintu gerbangnya dunia.
Ketika ideologi kokoh, ekonomi berdaulat, budaya berakar, teknologi dikuasai, sumber daya manusia unggul, dan persatuan terjaga, Indonesia tidak sekadar menjadi penonton arus perubahan dunia. Indonesia menjadi bagian dari pengarahnya.
Namun, kekuatan sejati tidak hanya lahir dari kecanggihan dan kekuasaan. Ia tumbuh dari jiwa yang beriman, hati yang bersih, pikiran yang merdeka, dan kesadaran bahwa tanah air adalah amanah Leluhur, Tuhan yang harus dijaga lintas generasi.
Ketahanan nasional adalah benteng di dalam negeri, sekaligus jembatan menuju pergaulan dunia.
Kita tidak membangun Indonesia untuk sekadar bertahan. Kita membangunnya agar berdiri teguh, memberi manfaat, menjadi cahaya, dan mengambil peran dalam peradaban dunia.
Sebab, pada akhirnya, bangsa yang mampu menjaga dirinya adalah bangsa yang siap memberi makna kepada dunia.
Indonesia kuat. Indonesia berdaulat. Indonesia bermartabat.
Dari ketahanan nasional, kita membuka pintu menuju dunia.
Penulis adalah Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar (Unmas).
