Oleh: Ngurah Sigit
BALI – Senin, 28 September 2026, Hari ini kami diterima dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan di kantor PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Bali.
Hanya 30 menit berdiskusi, tetapi percakapannya menembus jauh ke depan: tentang energi, lingkungan, kemandirian, dan masa depan Bali.
Bali sedang menulis babak baru dalam sejarahnya: Bali Mandiri Energi Bersih. Sebuah ikhtiar strategis untuk membangun sistem energi yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan ramah lingkungan, menuju target bebas energi fosil pada 2030.
Langkah tersebut bukan sekadar wacana. Pengembangan PLTS skala besar hingga 1.000 MWp yang didukung BESS 3.300 MWh menjadi bagian penting dari transformasi tersebut.
Pembangunan PSEL Denpasar yang dimulai pada 8 Juli 2026 dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027 juga menghadirkan paradigma baru: sampah bukan semata persoalan, tetapi dapat diolah menjadi sumber energi.
Sejak 1 April 2026, pembatasan sampah organik yang masuk ke TPA Regional Sarbagita Suwung semakin menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari hulu—dari cara kita memperlakukan alam, mengelola sampah, hingga menggunakan energi.
Di sinilah energi menemukan maknanya yang lebih dalam. Energi bersih bukan hanya persoalan teknologi. Ia adalah persoalan peradaban.
Ketika matahari Bali diubah menjadi listrik, ketika sampah diubah menjadi energi, dan ketika ketergantungan terhadap energi fosil dikurangi, sesungguhnya kita sedang mengubah cara sebuah pulau menjaga masa depannya.
PLN, pemerintah pusat, dan Pemerintah Provinsi Bali memiliki peran penting untuk memastikan transformasi ini berjalan melalui perencanaan, regulasi, infrastruktur, dan kolaborasi yang kuat.
Namun pada akhirnya, kemandirian energi bukan hanya pekerjaan pemerintah atau PLN. Ia adalah tanggung jawab seluruh anak bangsa.
Bali bukan sekadar pulau tujuan wisata. Bali adalah rumah, warisan leluhur, sekaligus bagian penting dari wajah Indonesia di mata dunia.
Menjaga alam Bali berarti menjaga kehormatan Indonesia.
Mengembangkan energi bersih berarti menanam investasi bagi generasi yang belum lahir.
Dan membangun kemandirian energi berarti menegakkan kembali satu semangat kebangsaan: berdiri di atas kekuatan sendiri, tanpa kehilangan keseimbangan dengan alam dan Sang Pencipta.
Semoga setiap kilowatt energi bersih yang lahir dari tanah Bali menjadi cahaya bagi kehidupan, bagi ekonomi, bagi lingkungan, dan bagi masa depan.
Karena menjaga bumi adalah ibadah. Membangun kemandirian adalah patriotisme. Dan mewariskan alam yang lestari kepada generasi berikutnya adalah bentuk cinta paling nyata kepada Indonesia.
Dari Bali untuk Indonesia. Dari energi bersih menuju kedaulatan energi. Dari hari ini, untuk masa depan yang lebih terang.
Penulis adalah Sosiolog, Budayawan, dan Pemerhati Media.
