Close Menu
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    Facebook Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    cakranews8.com
    • Beranda
    • Berita
    • Artikel
    • Politik
    • Ekonomi
    • Nasional
    • Pariwisata
    cakranews8.com
    Home»Budaya»Tiga Jam Diskusi di Kediaman Gus Teja
    Budaya

    Tiga Jam Diskusi di Kediaman Gus Teja

    By cakranews812 August 20262 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    Ketika Seruling Menjadi Suara Sukma

     

    Ubud, 10 Agustus 2026 — Ada perjalanan yang tidak diukur dari panjangnya jalan, melainkan dari kedalaman makna yang ditemukan sepanjang perjalanan.

    Senin siang itu, kami bergerak dari Denpasar menuju Ubud, Gianyar. Hamparan sawah hijau, pepohonan, dan angin Bali seakan mengantar kami menuju sebuah perjumpaan. Tepat pukul 12.00 WITA, kami tiba di kediaman Gus Teja. Dari radio Republik Indonesia terdengar lantunan Tri Sandya, menambah suasana menjadi hening dan sakral.

    Kami disambut hangat dan dipersilakan duduk di bale begong. Air kelapa gading, jagung rebus, dan pisang rebus tersaji sederhana.

    Namun, dari kesederhanaan itu justru lahir percakapan yang mendalam.

    Orang tua Gus Teja menuturkan bahwa budaya ibarat air kelapa gading: menyegarkan ketika manusia haus sekaligus mengingatkan manusia pada akar kehidupannya.

    Kehidupan, katanya, seperti jagung dan pisang rebus—sederhana, cukup, dan terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Sementara perjalanan hidup diibaratkan seperti seruling bambu. Ia baru dapat bersuara ketika diberi napas.

    Gus Teja kemudian menyampaikan makna yang lebih dalam:

    “Seruling adalah kata hati, sedangkan permainan jari adalah strategi.”»

    Kami terdiam. Di balik kalimat itu tersimpan filsafat kehidupan: napas adalah kehidupan, jari adalah ikhtiar, bambu adalah wadah, sedangkan suara adalah jiwa yang menemukan jalannya.

    Tiga jam berlalu dalam percakapan

    Kami kemudian memasuki studio Gus Teja, sebuah ruang sederhana tempat karya-karya lahir. Di sana, kami mendengarkan tiga lagu seruling. Nada-nadanya seolah membawa suara masa lalu menuju masa depan.

    Saat itulah kami semakin memahami bahwa menjaga budaya bukan berarti membekukan masa lalu, melainkan memberinya napas baru agar tetap hidup dan relevan di masa depan.

    Artikel lain  Sekolah Rakyat: Cahaya Tunas Muda Negeri

    Di tangan generasi muda, warisan bukan sekadar kenangan. Ia dapat menjelma menjadi karya, identitas, sekaligus kekuatan bangsa.

    Menjelang berpamitan, Gus Teja menyampaikan sebuah kalimat yang melekat dalam ingatan:

    “Suara seruling adalah panggilan sukma, sukma yang berhembus dengan keheningan.”»

    Kami pulang membawa pesan itu

    Bahwa patriotisme tidak selalu hadir dalam pekik yang keras. Kadang ia hadir dalam tangan yang tekun berkarya, dalam hati yang menjaga warisan, dan dalam keberanian generasi muda untuk membawa akar budaya menuju masa depan.

    Sebab selama bambu masih diberi napas, selama tangan masih mau berkarya, dan selama generasi masih mengenal akar budayanya, sukma bangsa tidak akan kehilangan suaranya.

     

    Om Santih, Santih, Santih Om. (***)

    Bali budaya Bali Gianyar Gus Teja Musik Tradision Seni Bali Seruling Bambu Ubud
    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Copy Link

    Related Posts

    BIBU Panji Sakti dan PTDI Teken Kontrak Tiga N219, Dorong Logistik Laut-Udara

    Koster Siapkan 1.000 Hektare Lahan PLTS, Bahlil: Paten Betul Gubernur Bali

    Presiden Prabowo Resmikan Bendungan Sidan, Gubernur Koster Hadiri Peresmian Secara Virtual dari Bali

    Menjemput Restu Tanah Para Sultan, Ikhtiar Bandara Internasional Bali Utara Dimulai dari Ternate

    Don't Miss
    Berita

    BNN dan AFP Perkuat Kerja Sama Hadapi Peredaran Narkotika Lintas Negara

    By cakranews822 September 2026

    BALI – Badan Narkotika Nasional (BNN) RI dan Australian Federal Police (AFP) kembali memperkuat kerja…

    Jaksa Agung ST Burhanuddin dari Bali: Penegakan Hukum Harus Dimulai dari Pencegahan

    19 September 2026

    Tanah Negara Rp4,8 Triliun di Ungasan Disita Kortastipidkor, Dugaan Ruislag Didalami

    17 September 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Beranda
    • Artikel
    © 2026 Cakranews8. Powered by Iwana.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.